6D88uBH2OkoWmaX0SxhtgruSVDdsh0Chic06QzDU

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

PARADOKS KELEDAI BURIDAN


Di dalam kehidupan, banyak pertanyaan dari beberapa pilihan hidup yang mengharuskan kita untuk memilih. Memilih sesuatu bukanlah hal yang sangat mudah. Banyak pertimbangan saat kita memilih. Dengan hal itu, akan ada dampak baik atau buruknya disetiap pilihan yang akan kita pilih nantinya.

Bagi sebagian orang, "memilih" adalah suatu hal yang sangat rumit. Apalagi jika kedua pilihan itu sama-sama baik di mata kita. Dua pilihan tersebut semuanya benar menurut kita. Namun, yang kita khawatirkan adalah jika ada penyesalan yang menyertai pilihan tersebut.


Aristoteles, adalah seorang filsuf Yunani yang menjadi guru dari Iskandar Agung. Ia menjadi murid dari Plato ketika berada di Athena. Aristoteles belajar dari Plato selama 20 tahun. Semasa hidupnya, ia menulis tentang filsafat dan ilmu lainnya yaitu fisika, politik, etika, biologi dan psikologi.

Dalam suatu karyanya yaitu On The Heavens, terdapat sebuah tulisan ...a man, being just as hungry as thirsty, and placed in between food and drink, must necessarily remain where he is and starve to death. Kalimat tersebut mengilhami atas munculnya sebuah paradoks lahir di kemudian hari.

Kamu kenal orang ini?


Jean Buridan


Beliau adalah Jean Buridan [dalam versi latin, namanya Johannes Buridanus], seorang filsuf dari Prancis yang hidup sekitar abad ke 14. Jean adalah seorang guru di fakultas seni Universitas Paris dimana sepanjang karirnya fokus pada karya Aristoteles.

Apa yang membuat Jean Buridan terkenal?

Dalam ilmu psikologi, terdapat sebuah paradoks filosofis yang mengenai keledai Buridan.

Suatu kisah yang mengacu pada suatu keadaan dimana terdapat seekor keledai yang dibuat sangat lapar dan sangat haus. Keledai tersebut kemudian ditempatkan di tengah-tengah antara tumpukan jerami dan seember air.


Keledai Buridan


Rasa lapar dan haus yang bersamaan membuat keledai tersebut bingung untuk memilih, apakah ia harus makan terlebih dahulu atau minum terlebih dahulu. Keledai tidak mampu memilih salah satu diantaranya. Mengingat asumsi ini, keledai sekarang tidak dapat membuat keputusan rasional tentang memilih jerami atau air. Hasilnya, keledai Buridan akan mati karena motifnya sama dan pilihannya yang sama dan dia tidak akan bisa membuat keputusan rasional antara jerami dan air.

Kamu juga pasti pernah pada posisi yang mirip dengan si keledai tadi, dimana kamu ragu-ragu akan suatu pilihan. Akhirnya kamu mencoba mendalami pilihan-pilihanmu dengan menimbang positif dan negatifnya. Hasilnya, kamu malah semakin ragu.

  • Pengen kuliah di kampus A karena akreditasinya bagus, tapi biaya hidupnya tinggi. Ada kampus B yang dekat dengan keluarga dan biaya hidup terjangkau, namun akreditas kampusnya "sedang-sedang saja".

  • Pengen resign karena lingkungan kerja yang toxic. Tapi khawatir nanti tidak mendapat pekerjaan baru dan keluarga terbengkalai.

Dalam hidupnya seseorang pasti pernah berada pada kondisi dimana ia harus memilih salah satu diantara beberapa opsi yang sama-sama baik. Takut salah pilih dan akhirnya menjadi penyesalan.

Segeralah ambil keputusan. Hal yang terburuk adalah mengetahui bahwa keputusan kamu itu salah, yang sebenarnya itu baik karena bisa membuatmu mengambil keputusan benar di kemudian hari.

"Kita bebas memilih jalan kita, tapi kita tidak bisa memilih konsekuensi yang menyertainya."
Sean Covey


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar